Pengumuman dari Redaksi

Sehubungan dengan satu dan lain hal, maka untuk sementara info pariwisata kabupaten jepara kami cukupkan hingga sedemikian dahulu, sambil menunggu selesainya penyempurnaan www.gojepara.com

13 Mei 2008

Kesenian Daerah di Jepara

Ki Wibowo Asmoro Salah satu dalang di Jepara

WAYANG KULIT

Pagelaran Rutin diselenggarakan 5 kali dalam setahun saat sabtu legi pukul 20.00 WIB di halaman Shopping Center Jepara(SCJ). Dimana setiap kali pementasannya dibawakan oleh 2 dalang, 5 sinden dan sekitar 20 orang pangrawit, yang terkadang diselingi oleh campur sari. Setelah pementasan, diadakan sarasehan dan ajang ekspresi sesama dalang.

Menurut Bapak Drs.Suliyono,MM selaku Ketua Komda tingkat II
Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI).
Contact Person: Bapak Muthohar (0291) 595980


EMPRAK

Emprak merupakan sendratari yang diiringi dengan musik slawatan yang berceritera tentang kisah kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad S.A.W. Emprak boleh dibilang merupakan suatu peragaan dari isi ceritera yang ada dalam Kitab Barzanji.
Fungsi kesenian Emprak ini hanyalah sebagai hiburan atau tontonan biasa. Kesenian ini lahir pada sekitar tahun 1927 di desa Pleret/Mejing, Gamping, Sleman.
Penciptanya adalah Kyai Derpo, beliau adalah putra dan seorang abdi dalem kraton yang bernama Dipowedono.
Jumlah pemain kesenian ini berkisar 30 orang yang terdiri dari 20 orang penari dan 10 orang pemain alat musik atau pengiring.
Pada mulanya penari Emprak terdiri dari laki-laki semua, tetapi pada tahun 1950 mulai ada penari wanita.
Mereka berusia antara 15 tahun sampai dengan 35 tahun.
Kostum yang dipakai para pemain Emprak bersifat realistis dan berorientasi ke Arab, sedangkan rias mukanya ada yang realistis, ada juga yang tidak realistis.
Kostum pemain terdiri dari serban, kupluk (peci) yang berwarna merah atau hitam, sampur, kain, kemeja panjang, blangkon, jubah dan lain-lainnya.
Warna kostum dan rias muka para pemain memiliki arti simbolis sebagai berikut:
(1) warna merah pada rias muka dan kostum untuk watak angkara murka;
(2) warna putih pada rias muka dan kostum untuk watak suci;
(3) warna hitam untuk watak jujur,
(4) warna lorek menggambarkan watak yang meliputi ketiga watak sebelumnya yaitu, angkara murka, suci dan jujur.
Pertunjukan emprak ini berpedoman kepada Kitab Barzanji.
Isi ceriteranya juga diambil dari Kitab tersebut.
Pentas yang dipergunakan berupa arena, yang biasanya adalah pendopo rumah-rumah penduduk atau pendopo balai desa/kalurahan.
Disain lantai melingkar tetapi pada saat tertentu juga menggunakan garis lurus.
Alat musik yang dipakai adalah terbang yang berjumlah 6 buah, dan alat musik yang dipakai pada Slawatan Maulud, yang terdiri dari kendang (dodog dan beb), kenting, kempul, ketuk dan gong.
Kadang-kadang masih ditambah lagi dengan kentongan.
Pertunjukan biasanya diselenggarakan pada malam hari selama kurang lebih 8 jam, dari jam 21.00 sampai jam 05.00.
Pada masa lalu, alat penerangan yang dipakai lampu triom (gantung) tetapi sekarang sudah mempergunakan lampu petromak.


TARI TAYUB

Tari Tayub atau acara Tayuban. merupakan salah satu kesenian Jawa yang mengandung unsur keindahan dan keserasian gerak. Tarian ini mirip dengan tari Jaipong dari Jawa Barat. Unsur keindahan diiikuti dengan kemampuan penari dalam melakonkan tari yang dibawakan. Tari tayub mirip dengan tari Gambyong yang lebih populer dari Jawa Tengah. Tarian ini biasa digelar pada acara pernikahan, khitan serta acara kebesaran misalnya hari kemerdekaan Republik Indonesia. Perayaan kemenangan dalam pemilihan kepala desa, serta acara bersih desa. Anggota yang ikut dalam kesenian ini terdiri dari sinden, penata gamelan serta penari khususnya wanita. Penari tari tayub bisa dilakukan sendiri atau bersama, biasanya penyelenggara acara (pria). Pelaksanaan acara dilaksanakan pada tengah malam antara jam 9.00-03.00 pagi. Penari tarian tayub lebih dikenal dengan inisiasi ledhek.


Red : Indra JTIC

Tidak ada komentar:

Agenda Jepara